Friday, August 31, 2012

Kisah XIII : SYAFAAT BAGI SIAPA ?


            Seorang ulama menceritakan bahwa seorang penyair bernama Hajib dalam memahami syafaat. Ia melantunkan syair ini :

            Jika Hajib bertransaksi di hari kebangkitan dengan Ali bin Abi Tholib
            Berbuatlah dosa sesukamu, dan saya akan menjamin

            Di malam hari, ia bermimpi berjumpa dengan Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib dalam keadaan marah dan berkata kepadanya, “Engkau tidak melantunkan syair yang bagus.”


            “Bagaimana sebaiknya?” Tanya Hajib.

            Imam Ali menjawab, “Perbaikilah syairmu menjadi ini :

            Hajib jika bertransaksi di hari kebangkitan dengan Ali
            Malulah kepada Ali, sedikitlah berbuat dosa.”

            Ya, harus terdapat keserasian antara pemberi syafaat dan penerima syafaat. Antara pemberi syafaat (syafi’) dan yang diberi syafaat (masyfu’) harus memiliki hubungan maknawi. Itu agar masyfu’  dapat memperoleh syafaat. Sebab syafaat adalah pertolongan yang diberikan kepada seorang yang memang patut mendapatkannya.

No comments:

Post a Comment