Saturday, September 1, 2012

Kisah XIV : BAHAYA TANGGUNG JAWAB DALAM MENGADILI


Di Bani Israil, hidup seorang hakim yang senantiasa menghakimi bebagai permasalahan di tengah masyarakat dengan adil. Tatkala berada di ambang kematian, ia berkata kepada isterinya, “Kalau  aku sudah mati, mandikanlah aku dan kafanilah.tutupilah wajahku dan letakkanlah aku disebuah peti. InsyaAllah engkau tidak akan menyaksikan sesuatu yang buruk.”

Tatkala ia meninggal, isterinya mengurus jenazahnya sesuai perintahnya. Selang beberapa menit ia menyingkapkan kain penutup wajahnya. Tiba-tiba ia melihat sekumpulan ulat meggerumuti wajahhnya dan mengerogoti hidungnya. Ia merasa takut menyaksikan kejadian ini (segera menutup kembali wajah [jenazah suaminya] dan menguburkannya.


Pada malam itu, ia bermimpi melihat suaminya yang berkata, “apakah engkau merasa takut terhadap apa yang dilakukan ulat-ulat itu?”

Wanita itu menjawab, “ya.”

Sang hakim berkata,” demi Allah, pemandangan menakutkan itu disebabkan kecenderunganku pada saudaramu. Suatu hari, saudaramu bersengketa dengan seseorang dan datang kepedaku. Tatkala keduanya duduk dihadapanku dan memintaku menghakiminya, aku berkata kepada diriku sendiri, ya Allah, berilah kebenaran pada pihak saudara isteriku. Sewaktu persengketaan mereka selesai diteliti, ternyata kebenaran berada di pihak saudaramu. Aku merasa senang. Dan ulat yang engkau saksikan itu merupakan balasan atas kecenderunganku pada saudaramu, sekalipun saudaramu berada dipihak yang benar. Namun saat itu aku tak mampu menjaga hawa nafsuku untuk bersikap netral.”

No comments:

Post a Comment