Di Bani Israil, hidup seorang hakim
yang senantiasa menghakimi bebagai permasalahan di tengah masyarakat dengan
adil. Tatkala berada di ambang kematian, ia berkata kepada isterinya, “Kalau aku sudah mati, mandikanlah aku dan kafanilah.tutupilah
wajahku dan letakkanlah aku disebuah peti. InsyaAllah engkau tidak akan
menyaksikan sesuatu yang buruk.”
Tatkala ia meninggal, isterinya
mengurus jenazahnya sesuai perintahnya. Selang beberapa menit ia menyingkapkan
kain penutup wajahnya. Tiba-tiba ia melihat sekumpulan ulat meggerumuti
wajahhnya dan mengerogoti hidungnya. Ia merasa takut menyaksikan kejadian ini
(segera menutup kembali wajah [jenazah suaminya] dan menguburkannya.
Pada malam itu, ia bermimpi melihat
suaminya yang berkata, “apakah engkau merasa takut terhadap apa yang dilakukan
ulat-ulat itu?”
Wanita itu menjawab, “ya.”
Sang hakim berkata,” demi Allah,
pemandangan menakutkan itu disebabkan kecenderunganku pada saudaramu. Suatu hari,
saudaramu bersengketa dengan seseorang dan datang kepedaku. Tatkala keduanya
duduk dihadapanku dan memintaku menghakiminya, aku berkata kepada diriku
sendiri, ya Allah, berilah kebenaran pada pihak saudara isteriku. Sewaktu persengketaan
mereka selesai diteliti, ternyata kebenaran berada di pihak saudaramu. Aku merasa
senang. Dan ulat yang engkau saksikan itu merupakan balasan atas
kecenderunganku pada saudaramu, sekalipun saudaramu berada dipihak yang benar. Namun
saat itu aku tak mampu menjaga hawa nafsuku untuk bersikap netral.”
No comments:
Post a Comment