Ø Cinta sebagai dasar setiap gerakan
Menurut Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah, gerakan terbagi dua : pertama, gerakan atas kehendak – gerakan ini timbul karena cinta. Tidak sesuatu pun yang mau menghendaki sesuatu yang tidak ia cintai. Jadi, jika Allah SWT menghendaki sesuatu, maka pasti Ia mencintainya, atau mencintai konsekuensinya ; kedua, gerakan terpaksa dan alami, yang mengikuti gerakan atas kehendak. Tidak akan ada gerakan alami di ala mini yang tidak mengikuti kehendak Sang Pencipta. Jika demikian halnya, semua gerakan kembali pada gerakan atas kehendak. Semua gerakan di alam ini mengikuti kehendak dan cinta. Dengan cinta dan karena cinta bergeraklah ala mini. Inilah alasan bagi tindakan dan tujuan. Alam-atas dan alam –bawah sadar tidak akan bergerak selain disebabkan oleh kehendak dan cinta, yang menjadi tujuannya. Bahkan, hakikat cinta adalah gerakan jiwa pencinta menuju yang dicintainya (kekasihnya). Artinya, cinta adalah gerakan yang tak pernah berhenti.
Ø Cinta sebagai dasar kebencian
Cinta dan kehendak juga merupakan asal atau dasar bagi kebencian atau ketidaksukaan. Sebab, kebencian atau ketidaksukaan akan menolak adanya sesuatu yang dicintai. Suatu tindakan dilakukan karena dua hal, yakni : untuk meraih keberadaan ataueksistensi sesuatu yang dicintai dan untuk menolak sesuatu yang dibenci. Sementara itu, menolak sesuatu yang dibenci juga dilakukan karena adanya sesuatu yang dicintai. Artinya, semua tindakan kembali kepada eksistensi atau keberadaan sesuatu yang dicintai. Contoh : Amir menolak makan daun papaya yang pahit, karena ia membenci rasa pahit. Ia membenci rasa pahit, karena ia mencintai rasa manis. Artinya, ia tidak akan membenci rasa pahit jika tidak ada rasa manis. Hal ini juga berarti : kebenciannya kepada rasa pahit, karena adanya rasa manis yang dicintainya.
