Ayatullah
Burujurdi pada saat mengajar dan berdiskusi dengan para muridnya, kadangkala
marah (jelas kemarahannya itu bukan kemarahan yang bertentangan dengan ridha
Allah). Namun seusai memberi pelajaran, beliau amat menyesali kemarahannya itu.
Beliau menemui murid yang dimarahinya dan meminta maaf kepadanya. Adakalanya demi
menarik simpatinya, beliau membri bantuan harta. Dikarenakan itulah, diantara
teman-teman muncul sebuah anekdot, “marahnya Ayatullah Burujurdi membawa berkah.”
Tak
jarang beliau merasa masih belum puas (dengan meminta maaf dan memberi bantuan).
Pada hari beikutnya, tatkala mengajar para muridnya, beliau kembali meminta
maaf kepada orang tersebut. Dengan demikian kita tahu betapa besarnya perhatian
beliau dalam menjaga hak dan kehormatan orang lain. Belajar dari imam ja’far
al-Shadiq yang mengatakan, “seorang mukmin kehormatannya lebih agung dari kehormatan ka’bah.” Yakni,
penghormatan terhadap seorang mukmin jauh lebih agung dari penghormatan
terhadap ka’bah.
Perhatikanlah
kisah di bawah ini:
Ayatullah
Burujudi mengajar pelajaran Ushul Fiqh (prinsip-prinsip fiqih)di masjid ‘isyqali.
Suatu hari, salah seorang yang mulia Syaikh Ali Capluqi melontarkan sanggahan. Beliau
memberi jawabannya. Syaikh Ali kembali membantah jawaban beliau. Lalu beliau
marah sehingga Syaikh Ali merasa terpukul dan hamper saja menangis. Pelajaran pun
usai.
Salah
satu sahabat Ayatullah Burujurdi (Syaikh Khunshari) menuturkan bahwa dirinya
baru saja selesai menunaikan shalat maghrib, tiba-tiba pembantu Ayatullah
Burujurdi menghampirinya dan berkata, “Tuan! Ayatullah Burujurdi sedang berdiri
di depan pintu perpustakaan dan merasa sedih dan menyesal dan berkata kepada
saya, “pergi dan panggillah Syaikh Khunshari.” Kemudian ia pun bergegas menunaikan
shalat isya dan langsung menemui beliau. Tatkala melihat kedatangannya, beliau
langsung berkata, “apa yang telah saya lakukan?” Saya telah menyakiti hati seorang
alim yang mulia (yaitu Syaik Ali Capluqi). Sekarang saya harus mendatanginya,
mncium tangannya, serta meminta kerelaannya sehingga ia memaafkanky. Setelah itu
barulah saya akan menunaikan shalat maghrib dan isya.”
Syaikh
Khunshari berkata kepada beliau (Ayatullah Burujurdi) bahwa Syaikh Ali menjdai
Imam shalat masjid Syah Zaid, dan seusai shalat menyampaikan beberapa
permasalahan hokum fiqih. Dengan demikian, setelah dua atau tiga jam, barulah
beliau pulang ke rumah.” Sekarang saya akan menyampaikan kepadanya bahwa esok
pagi anda akan menemuinya,” kata Syaikh Khunshari.
Di pagi hari, sepulang dari masjid,
Syaikh melihat Ayatullah Burujurdi telah menunggu di samping rumahnya dengan
menaiki andong. Lalu ia bersama beliau bertolak menuju rumah Sayikh Ali. Tatkala
berhadapan dengan Syaikh Ali, Ayatullah Burujurdi hendak langsung mencium
tangannya. Namu Syaikh Ali menolak. Ayatollah Burujurdi berkata, “Maafkanlah
saya. Saya telah keluar dari keadaan normal dan marah kepada anda…” Syaikh Ali
menjawab, “Anda adalah penghulu muslim. Sikap anda menumbuhkan kebanggaa dalam
diri saya dan …” Ayatullah Burujurdi sekali lagi berkata, “Maafkanlah saya.”
Kejadian
ini menjadikan Syaikh Ali –sampai akhir hayatnya- mendapatkan curahan kasih saying
dari Ayatullah Burujurdi.

No comments:
Post a Comment