Monday, September 3, 2012

Kisah XV : MENGHORMATI HAK ORANG LAIN


            Ayatullah Burujurdi pada saat mengajar dan berdiskusi dengan para muridnya, kadangkala marah (jelas kemarahannya itu bukan kemarahan yang bertentangan dengan ridha Allah). Namun seusai memberi pelajaran, beliau amat menyesali kemarahannya itu. Beliau menemui murid yang dimarahinya dan meminta maaf kepadanya. Adakalanya demi menarik simpatinya, beliau membri bantuan harta. Dikarenakan itulah, diantara teman-teman muncul sebuah anekdot, “marahnya Ayatullah Burujurdi membawa berkah.”


            Tak jarang beliau merasa masih belum puas (dengan meminta maaf dan memberi bantuan). Pada hari beikutnya, tatkala mengajar para muridnya, beliau kembali meminta maaf kepada orang tersebut. Dengan demikian kita tahu betapa besarnya perhatian beliau dalam menjaga hak dan kehormatan orang lain. Belajar dari imam ja’far al-Shadiq yang mengatakan, “seorang mukmin kehormatannya  lebih agung dari kehormatan ka’bah.” Yakni, penghormatan terhadap seorang mukmin jauh lebih agung dari penghormatan terhadap ka’bah.

            Perhatikanlah kisah di bawah ini:

            Ayatullah Burujudi mengajar pelajaran Ushul Fiqh (prinsip-prinsip fiqih)di masjid ‘isyqali. Suatu hari, salah seorang yang mulia Syaikh Ali Capluqi melontarkan sanggahan. Beliau memberi jawabannya. Syaikh Ali kembali membantah jawaban beliau. Lalu beliau marah sehingga Syaikh Ali merasa terpukul dan hamper saja menangis. Pelajaran pun usai.

            Salah satu sahabat Ayatullah Burujurdi (Syaikh Khunshari) menuturkan bahwa dirinya baru saja selesai menunaikan shalat maghrib, tiba-tiba pembantu Ayatullah Burujurdi menghampirinya dan berkata, “Tuan! Ayatullah Burujurdi sedang berdiri di depan pintu perpustakaan dan merasa sedih dan menyesal dan berkata kepada saya, “pergi dan panggillah Syaikh Khunshari.” Kemudian ia pun bergegas menunaikan shalat isya dan langsung menemui beliau. Tatkala melihat kedatangannya, beliau langsung berkata, “apa yang telah saya lakukan?” Saya telah menyakiti hati seorang alim yang mulia (yaitu Syaik Ali Capluqi). Sekarang saya harus mendatanginya, mncium tangannya, serta meminta kerelaannya sehingga ia memaafkanky. Setelah itu barulah saya akan menunaikan shalat maghrib dan isya.”

            Syaikh Khunshari berkata kepada beliau (Ayatullah Burujurdi) bahwa Syaikh Ali menjdai Imam shalat masjid Syah Zaid, dan seusai shalat menyampaikan beberapa permasalahan hokum fiqih. Dengan demikian, setelah dua atau tiga jam, barulah beliau pulang ke rumah.” Sekarang saya akan menyampaikan kepadanya bahwa esok pagi anda akan menemuinya,” kata Syaikh Khunshari.
Di pagi hari, sepulang dari masjid, Syaikh melihat Ayatullah Burujurdi telah menunggu di samping rumahnya dengan menaiki andong. Lalu ia bersama beliau bertolak menuju rumah Sayikh Ali. Tatkala berhadapan dengan Syaikh Ali, Ayatullah Burujurdi hendak langsung mencium tangannya. Namu Syaikh Ali menolak. Ayatollah Burujurdi berkata, “Maafkanlah saya. Saya telah keluar dari keadaan normal dan marah kepada anda…” Syaikh Ali menjawab, “Anda adalah penghulu muslim. Sikap anda menumbuhkan kebanggaa dalam diri saya dan …” Ayatullah Burujurdi sekali lagi berkata, “Maafkanlah saya.”

            Kejadian ini menjadikan Syaikh Ali –sampai akhir hayatnya- mendapatkan curahan kasih saying dari Ayatullah Burujurdi.

No comments:

Post a Comment