Nafi’
al-Anshari tengah berdiri di samping istana Harun al-Rasyid (khalifah kelima
Dinasti Abbasiah). Tiba-tiba ia melihat seseorang sedang menunggang keledai
keledai sedang mendekati istana. Tatkala penjada istana melihatnya, ia langsung
menghormat dan menyambutnya. Penjaga itu segera masuk ke dalam istana dan
meminta izin. Tak lama, penunggang keledai itu masuk istana.
Nafi’ al-Anshari bertanya kepada
Abdul Aziz (salah seorang yang kebetulan berada di sana), “Siapakah orang yang
mendapat penghormatan luar biasa itu?”
Abdul Aziz menjawab, “Ia adalah
kepala dari putera Abu Tholib dan pemimpin keturunan Muhammad saw ; Musa bin Ja’far
al-Kazhim.”
Nafi’ berkata, “Saya tidak pernah
menjumpai seseorang yang lebih lemah dan lebih hina dari para penjaga pintu
gerbang istana Harun ; mereka menghormati sedemikian rupa orang yang dapat
meruntuhkan kerajaan. Ketahuilah jika nantinya ia (Imam Musa al-Kazhim) keluar,
aku akan bersikap kepadanya sedemikian rupa, sehingga ia tampak kecil dan hina.”
Namun Nafi’ begitu egois dan sombong.
Ia tidak mengindahkan nasihat Abdul Aziz dan memutuskan untuk tetap melecehkan
Imam Musa saat keluar dari istana.
Tatkala Imam Musa al-Kazhim keluar
dari istana, Nafi’ dengan penuh ankuh menghampiri beliau dan menarik tali
kendali keledai beliau seraya berkata, “Hei! Siapa kamu?” Imam menjawab, “Hei!
Jika kamu bertanya tentang nasab dan keturunanku, aku adalah putera Muhammad
kekasih Allah, putera Ismail sembelihan Allah (dzabihullah), putera Ibrahim kekasih Allah. Jika engkau bertanya
tentang tanah airku, aku adalah penduduk tembat di mana Allah mewajibkan
seluruh muslimin –jika kamu salah satunya- untuk melakukan ibadah haji. Aku adalah
penduduk Mekkah. Jika kamu bertujuan menyombongkan diri, demi Allah, kaumku
yang musyrik (Quraisy) tidak menganggap kaummu yang beriman sebagai tandingan
dan sepadan dengan mereka. Bahkan dalam perang Badar mereka berkata, “Wahai
Muhammad! Utuslah ke medan perang kami orang-orang yang sepadan dengan kami
dari Quraisy!” Dan jika maksudmu adalah sebutan dan nama, ketahuilah bahwa aku
adalaah orang-orangyang Allah mewajibkan (manusia) dalam shalatnya untuk
bershalawat kepada kami dan engkau harus mengucapkan Allhumma shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad; kami adalah keluarga
dan keturuna Muhammad. Sekarang lepaskan tali kekang keledai ini!”
Tubuh Nafi’ bergetar setelah mendengar penjelasan mantap dari Imam
Musa al-Kazhim. Dengan penuh ras malu, ia melepaskan tali keledai yang
dipeganginya itu dan langsung ngeloyor pergi. Abdul Aziz melihat Nafi’ dan
berkata kepadanya, “Tidaklah aku sudah katakana bahwa engkau tak dapat begitu
saja meremehkan mereka (anak keturunan nubuwwah).”
Nafi’ kemudai melantunkan syair :
Pelita yang
dihidupkan Yang Mahasuci
Membakar janggut
orang yang meniupnya

No comments:
Post a Comment