Friday, August 24, 2012

Kisah VI : KHARISMA IMAM MUSA AL-KAZHIM


            Nafi’ al-Anshari tengah berdiri di samping istana Harun al-Rasyid (khalifah kelima Dinasti Abbasiah). Tiba-tiba ia melihat seseorang sedang menunggang keledai keledai sedang mendekati istana. Tatkala penjada istana melihatnya, ia langsung menghormat dan menyambutnya. Penjaga itu segera masuk ke dalam istana dan meminta izin. Tak lama, penunggang keledai itu masuk istana.

Nafi’ al-Anshari bertanya kepada Abdul Aziz (salah seorang yang kebetulan berada di sana), “Siapakah orang yang mendapat penghormatan luar biasa itu?”

Abdul Aziz menjawab, “Ia adalah kepala dari putera Abu Tholib dan pemimpin keturunan Muhammad saw ; Musa bin Ja’far al-Kazhim.”

Nafi’ berkata, “Saya tidak pernah menjumpai seseorang yang lebih lemah dan lebih hina dari para penjaga pintu gerbang istana Harun ; mereka menghormati sedemikian rupa orang yang dapat meruntuhkan kerajaan. Ketahuilah jika nantinya ia (Imam Musa al-Kazhim) keluar, aku akan bersikap kepadanya sedemikian rupa, sehingga ia tampak kecil dan hina.”

Abdul Aziz berkata kapada Nafi’, “Janganlah engkau lakukan itu. Sebab, ia adalah keturunan Rasulullah saw. Sedikit sekali orang yang berbuat jahat kepadanya lalu tidak merasa malu dan menyesal. Rasa malu itu terus dirasaknnya sampai akhir hayat.”

Namun Nafi’ begitu egois dan sombong. Ia tidak mengindahkan nasihat Abdul Aziz dan memutuskan untuk tetap melecehkan Imam Musa saat keluar dari istana.

Tatkala Imam Musa al-Kazhim keluar dari istana, Nafi’ dengan penuh ankuh menghampiri beliau dan menarik tali kendali keledai beliau seraya berkata, “Hei! Siapa kamu?” Imam menjawab, “Hei! Jika kamu bertanya tentang nasab dan keturunanku, aku adalah putera Muhammad kekasih Allah, putera Ismail sembelihan Allah (dzabihullah), putera Ibrahim kekasih Allah. Jika engkau bertanya tentang tanah airku, aku adalah penduduk tembat di mana Allah mewajibkan seluruh muslimin –jika kamu salah satunya- untuk melakukan ibadah haji. Aku adalah penduduk Mekkah. Jika kamu bertujuan menyombongkan diri, demi Allah, kaumku yang musyrik (Quraisy) tidak menganggap kaummu yang beriman sebagai tandingan dan sepadan dengan mereka. Bahkan dalam perang Badar mereka berkata, “Wahai Muhammad! Utuslah ke medan perang kami orang-orang yang sepadan dengan kami dari Quraisy!” Dan jika maksudmu adalah sebutan dan nama, ketahuilah bahwa aku adalaah orang-orangyang Allah mewajibkan (manusia) dalam shalatnya untuk bershalawat kepada kami dan engkau harus mengucapkan Allhumma shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad; kami adalah keluarga dan keturuna Muhammad. Sekarang lepaskan tali kekang keledai ini!”

Tubuh Nafi’ bergetar setelah mendengar penjelasan mantap dari Imam Musa al-Kazhim. Dengan penuh ras malu, ia melepaskan tali keledai yang dipeganginya itu dan langsung ngeloyor pergi. Abdul Aziz melihat Nafi’ dan berkata kepadanya, “Tidaklah aku sudah katakana bahwa engkau tak dapat begitu saja meremehkan mereka (anak keturunan nubuwwah).”

Nafi’ kemudai melantunkan syair :
Pelita yang dihidupkan Yang Mahasuci
Membakar janggut orang yang meniupnya

No comments:

Post a Comment