Assalamualaikum
Gmn kabarnya sobat...?
lama q gak posting, maap sebelumnya gara2 ada suatu kerjaan yang mengharuskan meninggalkan dunia maya.
D awal bulan Juni ini, yang bertepatan pada bulan Allah, bulan Rajab, q akan mengajak sobat untuk mengenang kembali perjuangan Imam Husein a.s sebagai penegak agama Allah di Bumi ini.
sebelumnya, ada yang tau siapa Imam Husein a.s ?
okelah, di bawah ini akan q paparkan biografi singkat pejalan hidup beliau, sekaligus q sertakan film yang menggugah hati para pecinta Allah dan RasulNya, yakni FILM KARBALA bersubtitle INDONESIA.
biar gak lama2, selamat mengambil manfaat dan semoga menjadi titik terang menjuju hidup yang di ridhoi Allah SWT.
okelah, di bawah ini akan q paparkan biografi singkat pejalan hidup beliau, sekaligus q sertakan film yang menggugah hati para pecinta Allah dan RasulNya, yakni FILM KARBALA bersubtitle INDONESIA.
biar gak lama2, selamat mengambil manfaat dan semoga menjadi titik terang menjuju hidup yang di ridhoi Allah SWT.
BIOGRAFI IMAM HUSEIN a.s.
Tanggal 3 Syaban 4 H, kota suci
Madinah menjadi saksi kelahiran seorang bayi suci, buah cinta Ali bin Abi
Thalib as dan Fathimah al-Zahra as. Ia adalah putra kedua sebuah keluarga yang
selalu dipuji-puji oleh Rasulullah Saw dan disebutnya sebagai Ahlul Bait.
Bahkan Al-Quran pun menegaskan kesucian mereka dari segala dosa dan noda. Dalam
surat al-Ahzab ayat 33, Allah swt berfirman: "Sesungguhnya Allah bermaksud
hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu
sebersih-bersihnya".
Ibunda bayi lelaki itu adalah
Sayyidah Fathimah al-Zahra as, putri Rasulullah saw. Ia adalah perempuan
terbaik lantaran keutamaan akhlak dan kesempurnaannya. Allah Swt menurunkan
surat al-Kautsar sebagai bentuk penghargaan terhadap posisi Sayyidah Fathimah
yang begitu luhur.
Sementara ayah dari bayi suci itu
adalah Ali bin Abi Thalib as. Ia adalah lelaki pertama yang memeluk Islam dan
tak pernah ternodai dengan kemusyrikan. Ia dikenal sebagai sosok manusia yang pemberani,
pujangga, dan orator ulung. Perjuangan beliau dalam membela Islam sedemikian
besarnya, hingga ia mendapat julukan "Asadullah", Singa Allah.
Pada hari yang penuh dengan berkah
dan kebahagiaan itu, sang bayi pun segera diantar ke pangkuan Rasulullah saw.
Dengan penuh penghormatan, Imam Ali as meminta Rasulullah saw untuk memberi
nama cucunya yang baru lahir itu. Dan akhirnya sang kakek memberinya nama
Husein.
Kecintaan dan perhatian Rasulullah
saw kepada Imam Husein sudah menjadi buah bibir umat Islam di masa itu. Bint
al-Shati, penulis kenamaan Mesir menuturkan, "Bagi Nabi, nama Hasan dan
Husein adalah senandung indah dan suara merdu yang tak pernah membosankan untuk
selalu disebut-sebutnya. Beliau selalu menganggap kedua cucunya itu seperti anak
sendiri. Allah swt menganugrahkan nikmat yang demikian besar kepada Sayyidah
Zahra as sehingga keturunan Rasulullah saw terus bersambung melalui
putra-putranya dan memberi kehormatan kepada Ali bin Abi Thalib as sehingga
melaluinya keturunan Nabi Saw tiada terputus".
Kecintaan Rasulullah saw kepada
kedua cucunya itu bukan sekedar karena ikatan keluarga dan darah. Sebab
sebagaimana yang ditegaskan sendiri oleh Al-Quran, seluruh perilaku dan ucapan
Nabi Saw tidak pernah ternodai oleh hawa nafsu dan keinginan pribadi, melainkan
selalu bersumber dari wahyu dan bimbingan ilahi. Kecintaan Rasulullah saw
kepada Hasan dan Husein sejatinya bersumber dari posisi istimewa kedua cucunya
itu di kalangan umat Islam. Seluruh jiwa dan kalbu Rasulullah saw dipenuhi oleh
rasa sayang dan cintanya kepada Hasan dan Husein as. Sampai-sampai beliau
bersabda: "Barang siapa yang mencintai mereka, maka ia sejatinya
mencintaiku. Dan barang siapa yang memusuhinya, maka ia memusuhiku".
Saat peristiwa Mubahalah terjadi,
Husein bin Ali masih kecil. Pada hari itu, Rasulullah saw mengajukan tantangan
mubahalah kepada kaum nasrani Najran untuk membuktikan ajaran mana yang benar
dan mengharap kehancuran bagi yang salah. Untuk membuktikan keseriusan beliau
dalam bermubahalah dengan para pemimpin kaum nasrani Najran, Rasulullah pun
membawa orang-orang yang paling dicintainya, yaitu Ahlul Bait beliau sendiri.
Mereka adalah Imam Ali as, Sayyidah Fatimah, dan kedua putranya, Hasan as dan
Husein as.
Perlahan tanpa terasa, Husein as
telah menginjak usia enam tahun. Pada usianya yang masih kanak-kanak itulah,
Rasulullah saw memenuhi panggilan ilahi dan menutup mata untuk selamanya.
Rasulullah saw meninggalkan umatnya setelah beliau berpesan untuk menjadikan
Ahlul Bait sebagai rujukan utama dan selalu mencintai mereka.
Selang beberapa tahun setelah
kepergian Rasulullah saw, umat Islam akhirnya meminta Imam Ali as sebagai
khalifah. Di masa itu, Husein bin Ali as selalu menjadi sahabat setia
perjuangan ayahnya dalam menegakkan Islam. Bersama saudaranya, Hasan bin Ali
as, Husein bin Ali as senantiasa mendampingi Imam Ali as baik di medan laga
maupun di kancah politik.
Pasca syahidnya Imam Ali as, tampuk
kepemimpinan umat beralih ke Imam Hasan as, kakak Husein bin Ali as. Seperti
halnya di masa Imam Ali, Husein bin Ali as selalu setia mendampingi perjuangan
dan kepemimpinan Imam Hasan as. Setelah Imam Hasan gugur syahid, kendali imamah
berada di tangan Imam Husein as hingga akhirnya terjadilah peristiwa heroik di
padang Karbala dan menempatkan dirinya sebagai pahlawan pembebasan terbesar di
sepanjang masa.
Tak syak, Nabi Muhammad Saw dan
ahlul baitnya as adalah suri teladan terbaik bagi seluruh manusia. Dengan
mengenal dan menerapkan model kehidupan mereka, niscaya kita akan memiliki
suatu kehidupan yang luhur dan berorientasi ilahi.
Sirah dan model kehidupan Imam
Husein as berpijak di atas landasan kecintaan terhadap umat. Keberadaan beliau
merupakan manifestasi kecintaan kepada Sang Khaliq hingga sinaran cintanya
menerangi seluruh alam semesta dan menyeru umat manusia untuk memeluk
kebenaran.
Imam Husein as terkenal sebagai
sosok manusia yang amat pengasih dan pemaaf. Dalam sejarah kehidupannya
dicatat, suatu ketika seorang dari Syam bernama Isham datang ke kota Madinah.
Setibanya di sana, ia melihat seorang pribadi yang terlihat amat berbeda dengan
khalayak lainnya. Ia pun bertanya kepada orang-orang, siapakah gerangan sosok
istimewa yang dilihatnya itu. Mereka menjawab, ia adalah Husein bin Ali as.
Isham yang saat itu terpengaruh oleh fitnah dan propaganda bani Umayyah segera
pergi mendekati beliau dan mencercanya dengan segala hinaan dan makian.
Menanggapi perilaku Isham, Imam Husein tak lantas marah begitu saja, sebaliknya
beliau justru menatapnya dengan penuh keramahan dan kasih sayang. Sejenak
kemudian, beliau pun membacakan ayat suci al-Quran mengenai sikap maaf dan
mengabaikan kekhilafan orang lain, lalu berkata, "Wahai lelaki, aku siap
melayani dan membantu apapun yang engkau perlukan". Kemudian Imam as
bertanya, "Apakah engkau berasal dari Syam?" Lelaki itupun
menjawabnya, "Iya".
Imam lantas berkata, "Aku tahu
mengapa engkau bersikap demikian. Tapi kini engkau sekarang berada di kota kami
dan terasing di sini. Jika engkau memerlukan sesuatu, aku siap membantu dan
menyambutmu di rumahku".
Melihat sikap Imam Husein yang di
luar dugaan dan begitu ramah itu, Isham pun menjadi takjub dan terkesima.
Hingga ia pun berkata, "Di saat itu, aku berharap bumi terbelah dan aku
tergelincir di dalamnya daripada bersikap begitu keras kepala dan ceroboh
semacam itu. Bayangkah saja, hingga saat itu aku masih menyimpan kebencian yang
sangat mendalam terhadap Husein dan ayahnya. Namun sikap penuh welas asih
Husein bin Ali as membuat diriku malu dan menyesal. Dan kini tak ada siapapun
yang lebih aku cintai kecuali dia dan ayahnya".
Dalam rangkaian wejangannya, Imam
Husien as berkata, "Wahai umat manusia, hiduplah kalian dengan nilai-nilai
moral yang luhur dan berlomba-lombalah kalian untuk memperoleh bekal
kebahagiaan. Jika kalian berbuat baik kepada seseorang, namun ia tak membalas
kebaikanmu, janganlah khawatir. Sebab Allah swt akan memberimu ganjaran yang
terbaik. Ketahuilah, kebutuhan masyarakat kepada kalian merupakan nikmat ilahi.
Maka, jangan kalian lewatkan kenikmatan itu supaya kalian bisa terhindar dari
azab ilahi."
Imam Husein as juga pernah berkata,
"Barang siapa yang terjebak dalam kesulitan dan ia tak tahu mesti berbuat
apa lagi, maka kasih sayang dan bersikap lemah lembut dengan masyarakat
merupakan kunci untuk menyelesaikan persoalannya".
Imam pernah pula menuturkan, "Insan
yang paling pemaaf adalah seseorang yang memaafkan saat ia berada di puncak
kekuasaannya".(IRIB)
sumber : http://www.taqrib.info
FILM KARBALA
No comments:
Post a Comment