Ketika kami bersama beberapa
ulama Syirazy di kota suci Najaf, Syaikh Muhammad Kazim al-Syirazy yang juga
hadir, berkata, “Saya pernah menemani Mirza al-Kabir dalam perjalanan menuju
kota Syraz. Suatu hari mulai petang dan suasana menjadi hening, Mirza al-Kabir
menyendiridi tenda beliau dan menghabiskn waktunya sendirian dalam kegelapan;
tak bersedia ditemui oleh siapapun.”
“saya lalu bertanya padanya, “Apa
yang sedang anda lakukan di saat-saat seperti ini?” beliau menjawab, “saya akan
beritahu anda nanti di Syraz, sesampainya di Syraz, beliau berkata, “ketika
saya menyendiri, saya melakukan introspeksi diri atas perbuatan-perbuatan saya
dalam sehari. Jika saya melakukan keburukan, maka saya harus berusaha
mengubahnya dan meminta ampunan kepada Allah. Namun, bila kebaikan yang telah saya
tunaikan, maka saya bersyukur kepada Allah yang telah menuntun saya dalam
perbuatan tersebut.”
Kemudian, Syaikh al-Islami al-Syirazy berkata, “yang saya lihat dari Mirza al-kabir lebih menakjubkan lagi. Ketika salah satu mata beliau selalu mengeluarkan air dan masih dalam perawatan dokter, saat itu saya sedang berkunjung ke temapt-tempat suci dan Mekah al-Mukarramah. Setelah pulang dari perjalanan tersebut, saya pergi menjenguk dan menayakan kondisi beliau. Beliau lalu mengucap syukur kepada Allah dan memujiNya. Benak saya berkata bahwa penyakitnya bekum sembuh, tetapi beliau menyembunyikannya. Kemudian saya memohon beliau untuk berterus terang. Kemudian beliau meminta saya untuk bersumpah untuk tidak mengatakannya, selama dokter yang merawat beliau masih hidup. Dikisahkan bahwa dokter rersebut adalah seorang muslim dan berideologi baik. Maka, saya pun bersumpah.”
Beliau lalu berkata, “ketika
dokter mengoperasi mata saya, saya tahu dia melakukan kesalahan sehingga mata
saya menjadi buta. Namun, bila waktu itu saya beberkan hal itu, maka saya akan
menghilangkan kepercayaan masyarakat kepadanya, bahkan mungkin mereka akan
mengucilkannya. Karenanya, saya tunjukkan rasa puas saya akan operasi yang
telah dilakukannya dan saya tidak mengatakan kepadanya bahwa saya telah
kehilngan satu mata saya karena operasi tersebut.”
“kemudian, ketika mata beliau
yang satunya lagi mulai mengucurkan air, keluarga beliau mulai mendatangkan seorang
dokter dari Inggris. Mereka minta agar dokter tersebut menyembuhkan kedua mata
Mirza al-Kabir. Tetapi, beliau menolaknya seraya berkata, “dokter nasrani itu
tahu bahwa saya seorang ulama muslim, dan saya tidak rela jika nanti aka nada yang
brkata bahwa mata Mirza telah dioperasi oleh seorang dokter muslim dan menjadi
buta, lantas disembuhkan oleh seorang dokter Nasrani.”
Namun , akhirnya beliau tidak
lagi mempermasalahkan upada penyembuhan itu. Setelah dua atau tiga bulan
pengobatan itu, beliau beliau pun wafat. Sebagian orang meyakini bahwa dokter
Nasrani itu telah meracuni beliau hingga menyebabkan kematiannya.”
* * * *
* *
Mirza
Ismail al-Kaziruni berkata, “saat Mirza al-Kabir mengalami sakaratul maut,
beliau membaca ayat-ayat terakhir surat al-Hasyr dan melakukannya
berulang-ulang. Hingga ruh sucinya dicabut, beliau masih membaca ayat : Dialah Allah yang tiada tuhan selain-Nya,
raja, Yang Mahasuci dan Mahasejahtera. Lalu, wafatlah beliau menuju alam
akhirat.”
Ya,
sebuah kebahagiaan tertinggi, ketika pada detik-detik terakhir usianya, lisan
dan hati seseorang sibuk mengingat Allah dan mati dalam kondisi tersebut. Inilah
impian semua orang beriman. “Ya Allah, demi kedudukan Muhammad SAW dan keluarga
suci beliau, jadikanlah akhir hayat kami sebagai sebuah akhir yang baik.”

No comments:
Post a Comment