Sunday, June 17, 2012

Kisah III : INTROSPEKSI DIRI


Seorang mulia, Sadruddin al-Mahalaty, cucu Mirza al-Kabir, menulis dalam bukunya :
Ketika kami bersama beberapa ulama Syirazy di kota suci Najaf, Syaikh Muhammad Kazim al-Syirazy yang juga hadir, berkata, “Saya pernah menemani Mirza al-Kabir dalam perjalanan menuju kota Syraz. Suatu hari mulai petang dan suasana menjadi hening, Mirza al-Kabir menyendiridi tenda beliau dan menghabiskn waktunya sendirian dalam kegelapan; tak bersedia ditemui oleh siapapun.”

“saya lalu bertanya padanya, “Apa yang sedang anda lakukan di saat-saat seperti ini?” beliau menjawab, “saya akan beritahu anda nanti di Syraz, sesampainya di Syraz, beliau berkata, “ketika saya menyendiri, saya melakukan introspeksi diri atas perbuatan-perbuatan saya dalam sehari. Jika saya melakukan keburukan, maka saya harus berusaha mengubahnya dan meminta ampunan kepada Allah. Namun, bila kebaikan yang telah saya tunaikan, maka saya bersyukur kepada Allah yang telah menuntun saya dalam perbuatan tersebut.”


Kemudian, Syaikh al-Islami al-Syirazy berkata, “yang saya lihat dari Mirza al-kabir lebih menakjubkan lagi. Ketika salah satu mata beliau selalu mengeluarkan air dan masih dalam perawatan dokter, saat itu saya sedang berkunjung ke temapt-tempat suci dan Mekah al-Mukarramah. Setelah pulang dari perjalanan tersebut, saya pergi menjenguk dan menayakan kondisi beliau. Beliau lalu mengucap syukur kepada Allah dan memujiNya. Benak saya berkata bahwa penyakitnya bekum sembuh, tetapi beliau menyembunyikannya. Kemudian saya memohon beliau untuk berterus terang. Kemudian beliau meminta saya untuk bersumpah untuk tidak mengatakannya, selama dokter yang merawat beliau masih hidup. Dikisahkan bahwa dokter rersebut adalah seorang muslim dan berideologi baik. Maka, saya pun bersumpah.”

Beliau lalu berkata, “ketika dokter mengoperasi mata saya, saya tahu dia melakukan kesalahan sehingga mata saya menjadi buta. Namun, bila waktu itu saya beberkan hal itu, maka saya akan menghilangkan kepercayaan masyarakat kepadanya, bahkan mungkin mereka akan mengucilkannya. Karenanya, saya tunjukkan rasa puas saya akan operasi yang telah dilakukannya dan saya tidak mengatakan kepadanya bahwa saya telah kehilngan satu mata saya karena operasi tersebut.”

“kemudian, ketika mata beliau yang satunya lagi mulai mengucurkan air, keluarga beliau mulai mendatangkan seorang dokter dari Inggris. Mereka minta agar dokter tersebut menyembuhkan kedua mata Mirza al-Kabir. Tetapi, beliau menolaknya seraya berkata, “dokter nasrani itu tahu bahwa saya seorang ulama muslim, dan saya tidak rela jika nanti aka nada yang brkata bahwa mata Mirza telah dioperasi oleh seorang dokter muslim dan menjadi buta, lantas disembuhkan oleh seorang dokter Nasrani.”

Namun , akhirnya beliau tidak lagi mempermasalahkan upada penyembuhan itu. Setelah dua atau tiga bulan pengobatan itu, beliau beliau pun wafat. Sebagian orang meyakini bahwa dokter Nasrani itu telah meracuni beliau hingga menyebabkan kematiannya.”
* * * * * *

Mirza Ismail al-Kaziruni berkata, “saat Mirza al-Kabir mengalami sakaratul maut, beliau membaca ayat-ayat terakhir surat al-Hasyr dan melakukannya berulang-ulang. Hingga ruh sucinya dicabut, beliau masih membaca ayat : Dialah Allah yang tiada tuhan selain-Nya, raja, Yang Mahasuci dan Mahasejahtera. Lalu, wafatlah beliau menuju alam akhirat.”

Ya, sebuah kebahagiaan tertinggi, ketika pada detik-detik terakhir usianya, lisan dan hati seseorang sibuk mengingat Allah dan mati dalam kondisi tersebut. Inilah impian semua orang beriman. “Ya Allah, demi kedudukan Muhammad SAW dan keluarga suci beliau, jadikanlah akhir hayat kami sebagai sebuah akhir yang baik.”

No comments:

Post a Comment