Assalamu'alaikum
Setelah beberap waktu yang lalu saya telah ajak para sobat untuk mempelajari kembali biografi mulia Nabi Muhammad SAWW.
Dan sekarang pada tanggal 13 Rajab, yang bertepatan dengan kelahiran manusia agung, yaitu Imam Ali bin Abi Tholib, saya akan ajak kembali untuk mempelajari ulang bagaimana tindak tanduk manusia suci yang mencintai dan dicintai oleh Allah dan Rasulnya tersebut melalui biografi singkat beliau. Sekaligus saya sertakan film Imam Ali yang menjelaskan sikap dan perilaku beliau pada keteguhan dalam menjunjung Islam. Semoga dengan kita mempelajari kembali bagaimana kisah hidup beliau kita bisa mengambil manfaat yang tak terniali harganya. Amin
Tak panjang lebar, di bawah ini saya tuliskan biogarfi beliau.
SELAMAT MEMBACA
Nama lengkap
beliau adalah Ali bin Abi Thalib as, bergelar Amirul Mukminin, sementara
julukannya adalah Abu Al-Hasan atau Abu Turab. Imam Ali dilahirkan dari
pasangan suami istri yang taqwa dan beriman kepada Allah dan rasulnya yang
bernama Abu Thalib [as] paman Rasululullah saww, sementara ibunya bernama
Fatimah binti Asad. Beliau dilahirkan di kota Makkah tepat pada Hari, Jum'at 13
Rajab. Ahli sejarah mengatakan bahwa umur beliau 63 Tahun, dan wafat beliau
bertepatan pada hari Malam Jum' at, 21 Ramadhan 40 H. Beliau syahid di tangan
si durjana Abdurrahman ibnu Muljam dengan cara menikam dari belakang dengan
pedang disaat beliau tengah berdoa dihadapan tuhannya pada shalat subuh. Beliau
dimakamkan di kota Najaf As-syarif [Iraq].
Imam Ali bin
Abi Thalib a.s. adalah sepupu Rasulullah saww. Dikisahkan bahwa pada saat
ibunya. Fatimah hinti Asad, dalam keadaan hamil, beliau masih ikut bertawaf
disekitar Ka'bah. Karena keletihan yang dialaminya lalu si ibu tadi duduk di
depan pintu Ka'bah seraya memohon kepada Tuhannya agar memberinya kekuatan.
Tiba-tiba tembok Ka'bah tersebut bergetar dan terbukalah dindingnya. Seketika
itu pula Fatimah binti Asad masuk ke dalamnya dan terlahirlah di sana seorang
bayi mungil yang kelak kemudian menjadi manusia besar, Imam Alibin Abi Thalib.a.s.
Membicarakan
tentang Imam Ali bin Abi Thalib maka, kita tidak dapat memisahkannya dengan
Rasulullah saww. Sebab sejak kecil beliau telah berada dalam didikan madrasah
Rasulullah saww, sebagaimana dikatakannya sendiri: "Nabi membesarkan aku
dengan suapannya sendiri. Aku menyertai beliau kemanapun beliau pergi, seperti
anak unta yang mengikuti induknya. Tiap hari aku dapatkan suatu hal baru dari
karakternya yang mulia dan aku menerima serta mengikutinya sebagai suatu
perintah".
Setelah
Rasulullah saww mengumumkan tentang kenabiannya, beliau menerima dan
mengimaninya dan termasuk orang yang masuk islam pertama kali dari kaum
laki-laki. Apapun yang dikerjakan dan diajarkan Rasulullah kepadanya, selalu
diamalkan dan ditirunya. Sehingga beliau tidak pernah terkotori oleh kesyirikan
atau tercemari oleh karakter, hina dan jahat dan tidak juga tidak ternodai oleh
kemaksiatan sama sekali. Kepribadian beliau telah menyatu dengan kepribadian
Rasululullah saww, baik dalam karakternya, pengetahuannya, pengorbanan diri,
kesabaran, keberanian, kebaikan, kemurahan hati, kefasihan dalam berbicara dan
berpidato.
Sejak masa
kecilnya beliau selalu menolong Rasulullah saww dan terpaksa harus menggunakan
kepalan tangannya dalam mengusir anak-anak kecil serta para gelandangan yang
diperintah kaum kafir Qurays untuk mengganggu dan melempari batu kepada diri
Rasulullah saww.
Keberanian
pemuda yang bernama Ali bin Abi Thalib ini tidak tertandingi, sebagaimana yang
disabdakan oleh Rasulullah saww: "Tiada pemuda sehebat Ali". Dalam
bidang keilmuan, Rasul menamakannya sebagai pintu ilmu. Bila ingin berbicara
tentang kesalehan dan kesetiaannya, maka simaklah sabda Rasulullah saww:
"Jika kalian ingin tahu ilmunya Adam, kesalehan Nuh, kesetiaan lbrahim,
keterpesonaan Musa,
pelayanan dan kepantangan Isa, maka lihatlah kecemerlangan wajah Ali".
Beliau merupakan orang yang paling dekat hubungan kefamiliannya dengan Nabi
saww sebab, beliau bukan hanya sepupu nabi, tapi sekaligus sebagai anak asuhnya
dan suami dari putrinya serta sebagai penerus kepemimpinan sepeninggalnya saww.
Sejarah juga
telah menjadi saksi nyata atas keberaniannya. Di setiap peperangan, beliau
selalu saja menjadi orang yang terkemuka. Di perang Badar, hampir separuh dari
jumlah musuh yang mati, tewas di ujung pedang Imam Ali a.s. Di perang Uhud,
dimana musuh Islam lagi-lagi dipimpin oleh Abu Sofyan dan keluarga Umayyah yang
sangat memusuhi Nabi saww, Imam Ali a.s kembali memerankan peran yang sangat
penting yaitu ketika sebagian sahabat tidak lagi mendengarkan wasiat Rasulullah
agar tidak turun dari atas gunung, namun mereka tetap turun sehingga orang
kafir Qurays mengambil posisi mereka, lmam Alibin Abi Thalib a.s. segera datang
untuk menyelamatkan diri nabi dan sekaligus menghalau serangan itu.
Perang
Khandak juga menjadi saksi nyata keberanian Imam Ali bin Abi Thalib a.s. ketika
memerangi Amar bin Abdi Wud. Dengan satu tebasan pedangnya yang bernama
Dzulfikar, Amar bin Abdi Wud terbelah menjadi dua bagian. Demikian pula halnya
dengan perang Khaibar, di saat para sahabat tidak mampu membuka benteng
Khaibar, Nabi saww ber-sabda: "Besok, akan aku serahkan bendera kepada
seseorang yang tidak akan melarikan diri, dia akan menyerang berulang-ulang dan
Allah akan mengaruniakan kemenangan baginya. Allah dan Rasul-Nya mencintainya
dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya". Maka, seluruh sahabat pun
berangan-angan untuk mendapatkan kemuliaan tersebut. Namun, temyata Imam Ali
bin Abi Thalib a.s. yang mendapat kehormatan itu serta mampu menghancurkan
benteng Khaibar dan berhasil membunuh seorang prajurit musuh yang berani
bernama Marhab lalu menebasnya hingga terbelah menjadi dua bagian.
Begitulah
kegagahan yang ditampakkan oleh Imam Ali dalam menghadapi musuh islam serta
dalam membela Allah dan Rasul-Nya. Tidak syak lagi bahwa seluruh kebidupan Imam
Ali bin Abi Thalib a.s. dipersembahkan untuk Rasulnya demi keberhasilan proyek
dan keinginan Allah. Kecintaan yang mendalam kepada Rasulullah benar-benar
terbukti lewat perjuangannya. Penderitaan dan kesedihan dalam medan perjuangan
mewarnai kehidupannya. Namun, penderitaan dan kesedihan yang paling dirasakan
adalah saat ditinggalkan Rasulullah saww. Tidak cukup itu, 75 hari kemudian
istrinya, Fatimah Zahra as, juga meninggal dunia.
Kepergian
Rasululullah saww telah membawa angin lain dalam kehidupan Imam Ali a.s.
Pagelaran sandiwara atas nama demokrasi di Saqifah yang menghasilkan pemilihan
khalifah pertama, baru didengarnya setelah pulang dari kuburan Rasulullah saww.
Sebab, pemilihan khalifah itu menurut sejarah memang terjadi saat Rasulullah
belum di makamkan. Pada tahun ke-13 H, khalifah pertama, Abu Bakar as-Shiddiq,
meninggal dunia dan menunjuk khalifah ke-2, Umar bin Khaththab sebagai
penggantinya. Sepuluh tahun lamanya khalifah ke-2 meimpin dan pada tahun ke-23
H, beliau juga wafat. Namun, sebelum wafatnya, khalifah pertama telah menunjuk
6 orang calon pengganti dan Imam Ali a.s. termasuk salah seorang dari mereka.
Kemudian terpilihlah khalifah Utsman bin Affan. Sedang Imam Ali bin Abi Thahb
a.s. tidak terpilih karena menolak syarat yang diajukan Abdurrahman bin Auf
yaitu agar mengikuti apa yang diperbuat khalifah pertama dan kedua dan
mengatakan akan mengikuti apa yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.
Pada tahun
35 H, khalifah Utsman terbunuh dan kaum muslimin secara aklamatis menunjuk Imam
Ali sebagai khalifah dan pengganti Rasululullah saww dan sejak itu beliau
memimpin negara Islam tersebut. Selama masa kekhalifahannya yang hampir 4 tahun
9 bulan, Imam Ali mengikuti cara Nabi dan mulai menyusun sistim yang islami
dengan membentuk gerakan spiritual dan pembaharuan.
Dalam merealisasikan usahanya, beliau menghadapi banyak tantangan dan peperangan, sebab, tidak dapat dipungkiri bahwa gerakan pembaharuan yang dicanangkannya dapat merongrong dan menghancurkan keuntungan-keuntungan pribadi dan beberapa kelompok yang merasa dirugikan. Akhirnya, terjadilah perang Jamal dekat Bashrah antara beliau dengan Talhah dan Zubair yang didukung oleh Mua'wiyah, yang di dalamnya Aisyah "Ummul Mukminin" ikut keluar untuk memerangi Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Peperangan pun tak dapat dihindari, dan akhirnya pasukan Imam Ali a.s berhasil memenangkan peperangan itu sementara Aisyah "Ummul Mu'rninin" dipulangkan secara terhormat kerumahnya.
Kemudian terjadi "perang Siffin" yaitu peperangan antara beliau a.s. melawan kelompok Mu'awiyah, sebagai kelompok oposisi untuk kepentingan pribadi yang merongrong negara yang sah. Peperangan itu terjadi di perbatasan Iraq dan Syiria dan berlangsung selama setengah tahun. Beliau juga memerangi Khawarij (orang yang keluar dan lingkup Islam) di Nahrawan, yang dikenal dengan nama "perang Nahrawan". Oleh karena itu, hampir sebagian besar hari-hari pemerintahan Imam Ali bin Abi Thalib a.s digunakan untuk peperangan interen melawan pihak- pihak oposisi yang sangat merongrong dan merugikan keabsahan negara Islam dan kedudukan Imam Ali.
Dalam merealisasikan usahanya, beliau menghadapi banyak tantangan dan peperangan, sebab, tidak dapat dipungkiri bahwa gerakan pembaharuan yang dicanangkannya dapat merongrong dan menghancurkan keuntungan-keuntungan pribadi dan beberapa kelompok yang merasa dirugikan. Akhirnya, terjadilah perang Jamal dekat Bashrah antara beliau dengan Talhah dan Zubair yang didukung oleh Mua'wiyah, yang di dalamnya Aisyah "Ummul Mukminin" ikut keluar untuk memerangi Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Peperangan pun tak dapat dihindari, dan akhirnya pasukan Imam Ali a.s berhasil memenangkan peperangan itu sementara Aisyah "Ummul Mu'rninin" dipulangkan secara terhormat kerumahnya.
Kemudian terjadi "perang Siffin" yaitu peperangan antara beliau a.s. melawan kelompok Mu'awiyah, sebagai kelompok oposisi untuk kepentingan pribadi yang merongrong negara yang sah. Peperangan itu terjadi di perbatasan Iraq dan Syiria dan berlangsung selama setengah tahun. Beliau juga memerangi Khawarij (orang yang keluar dan lingkup Islam) di Nahrawan, yang dikenal dengan nama "perang Nahrawan". Oleh karena itu, hampir sebagian besar hari-hari pemerintahan Imam Ali bin Abi Thalib a.s digunakan untuk peperangan interen melawan pihak- pihak oposisi yang sangat merongrong dan merugikan keabsahan negara Islam dan kedudukan Imam Ali.
Akhirnya,
menjelang subuh, 19 Ramadhan 40 H, ketika sedang salat di masjid Kufah, kepala
beliau ditebas dengan pedang beracun oleh Abdurrahman bin Muljam. Menjelang
wafatnya, pria sejati ini masih sempat memberi makan kepada pembunuhnya. Singa
Allah, yang dilahirkan di rumah Allah "Ka'bah" dan dibunuh di rumah
Allah "Mesjid Kufah", yang mempunyai hati paling berani, yang selalu
berada dalam didikan Rasulullah saww sejak kecilnya serta selalu berjalan dalam
ketaatan pada Allah hingga hari wafatnya, kini telah mengakhiri kehidupan dan
pengabdiannya untuk Islam.
Beliau memang telah tiada namun itu tidak berarti seruannya telah berakhir, Allah berfirman: "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup tetapi kamu tidak menyadarinya. " (Q.S. : 2 : 154)[]. Allahu A’lam
Beliau memang telah tiada namun itu tidak berarti seruannya telah berakhir, Allah berfirman: "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup tetapi kamu tidak menyadarinya. " (Q.S. : 2 : 154)[]. Allahu A’lam
No comments:
Post a Comment